Ketakutan disini berarti hubungan konfrontatif yang bervariasi dari pengambilan jarak sosial tanpa kekerasan, seperti rasa tidak suka dan mengabaikan.
Kita mengenal orang lain pertama-tama sebagai anggota sebuah kelompok, yaitu sebagai Muslim, orang Kristen, Keturunan Cina, anggota kelompok tertentu, dst. Rasa takut untuk bersentuhan mewarnai setiap fase pengenalan. Kita enggan mulai menyapa orang yang berbeda ideologi. Antara lain karena sulit mengantisipasi reaksinya yang bisa saja merugikan atau tak membawa keuntungan.

Stigma seperti ini tentu saja menghambat perkembangan penerimaan perbedaan persepsi, karena rasa takut untuk bersentuhan terus diawetkan dan diperbesar.
Dia atau mereka yang distigma tidak dilihat sebagai individu, melainkan sebagai elemen sebuah kelompok yang di diskreditkan. Sementara seorang pribadi dengan sebuah stigma, tidak sepenuhnya manusiawi. Dalam kondisi ini, mereka membuat banyak diskriminasi untuk mengurangi peluang hidup individu lain secara efektif karena yang terstigma dianggap ancaman.
Stigma lalu dapat menjelaskan mengapa seorang individu mampu melakukan diskriminasi tanpa rasa salah, bahkan dengan rasa bangga dan ekstatis. Yang terstigma, dalam rakitan pikiran pelaku bukan seorang individu mandiri, melainkan sebagai musuh kelompok yang berbahaya dan pantas untuk dilenyapkan.

Tampak disini semua itu bermula dari ketakutan yang berasal dari fiksi bahwa yang lain itu mengancam dan menakutkan. Orang dikecoh oleh bayangan bahwa menyentuh anggota lain itu menodai diri, berkontak dengan kelompok dengan kasta rendah itu najis, atau berkomunikasi dengan kelompok yang dianggap saingannya itu haram. Kalau demikian, sistem ketakutan yang mendasari heterofobia bersumber dari ketakutan akan diri sendiri. Dan mereka yang takut akan dirinya sendiri cenderung melihat yang lain sebagai ancaman survivalnya, maka mereka ini bisa disebut penyerang. Mereka yang percaya akan serangan potensial akan sungguh menyerang untuk meredakan ketakutan mereka.
Rasa takut adalah sumber utama tahayul dan salah satu sumber diskriminasi. Penegasan kekitaan, entah itu bernama etnik, kelompok, forum ataupun ideologi, menjadi alat penegasan diri suatu 'ego kolektif' yang panik. Meski tanpa alasan jelas yang menjadi sumber dari rasa panik itu sendiri.
Karena penyebab-penyebab panik tak ditemukan, maka sebab-sebab itu harus dicari. Dan tak ada yang lebih cocok untuk proyeksi ini sebagai pernyataan kalau orang lain itu adalah parasit.


Individu yang berbeda ideologi dia lihat sebagai simbol dari yang jahat dan melenyapkan mereka lalu menjadi kewajiban yang etis. Diskriminasi terhadap individu berbeda itu pada akhirnya bersumber pada penipuan diri, suatu jalan putar untuk imunisasi kecemasannya sendiri, suatu sikap pengecut menghadapi kebebasannya sendiri.
Kebebasan tidak hanya membiarkan individu atau kelompok lain berbeda, melainkan juga memberanikan diri unuk berbeda. Para pengecut takut untuk bertindak lain dari kawanannya, maka dia menjual nuraninya atas nama kelompok. Sikap egois dan kesombongan akan dirinya sendiri lahir dari kegagapan akan perubahan dan kemajuan yang terjadi dalam individu atau kelompok lain. Dia bukan tanda kepercayaan, melainkan cermin ketidakmampuan untuk percaya.
Barang siapa melakukan diskriminasi, seharusnya malu akan dirinya sendiri.
















